Everyday Is A Miracle

Be happy and enjoy every single bite of it

Communication Skill (Part 1)

Leave a comment

Gua sama sekali bukan mau ngomongin mengenai Training Communication Skill yang banyak beredar di mana-mana itu. Kalau itu sih gua juga udah sering ikut trainingnya sampai tahap boring karena gak ada lagi ilmu baru sebetulnya, adanya diulang-ulang dan diingetin terus. Kalau perlu trik dan tips berkomunikasi yang baik banyak sebetulnya kalau mau digoogling, dan teorinya juga sebetulnya sih itu-itu aja.

Yang mau gua share di sini adalah ringkasan kotbah beberapa minggu yang lalu di gereja gua yang dibawakan sama David Blakely. Jadi dia sudah berkecimpung sebagai family counselor selama 19 tahun, orang Amerika, married sama cewek Singapore, dan punya 2 anak. Selama 2 minggu dia kotbah di gereja gua. Temanya ya itu tadi, communication skill. Minggu pertama bagaimana membangun komunikasi antara pasangan, dan minggu kedua komunikasi antara orang tua dan anak. Kedengeran klise ya, tapi bagus ternyata, simple dan applicable banget.

Oya, orangnya keliatan masih muda banget lho, gak nyangka anaknya udah ada yang umur 17 tahun. Terus pas ditampilin foto anaknya, ya ampun itu gak ada bulenya sama sekali, Asian murni banget tampangnya. Gak nyangka deh tuh bapaknya Bule abis kayak gitu. Terus si David ini cara ngomongnya juga enak, kalem dan kayak berirama gitu, jadi yang dengerin juga betah ya…gua jadi inget tuh dulu di Radio RPK kalau jam 6.45 pagi (kalau gak salah) suka ada program Our Daily Bread. Nah, yang bacain renungannya itu bule dan enak banget deh suaranya. Gua suka dengerin ini kalau pas berangkat kantor pagi-pagi (seiring dengan berjalannya waktu di mana gua makin males berangkat pagi dan jam berangkat makin siang, gua gak pernah dengerin ini lagi, hehehe….). Cara ngomong David Blakely tuh persis banget sama pembaca ODB di RPK itu.

Walaupun poin-poinnya simple tapi mengena banget dan dia kasih banyak contoh-contoh. Semua contoh itu kebanyakan dia ambil dari keluarga dia, terus lucu-lucu juga. Sebetulnya lucu dan bener banget, soalnya ya itulah kehidupan keluarga sehari-hari dengan segala pernak-perniknya kan…….Terus juga dia bukan orang yang sok ideal dengan bilang harus begini, harus begitu (misal teori yang bilang pertengkaran harus selesai sebelum sama-sama tidur di malam hari), tapi lebih ke yang kayak gini: ” ya saya tau sih, kadang-kadang kalau masalahnya pelik gak mungkin kan yang namanya masalah bisa selesai dalam 1 hari, tapi at least………). Nah, kayak gitu deh, intisari kotbah dan contohnya tuh membumi banget.

Kenapa kotbah ini gua catet, soalnya disuru sama Oom Pendeta….hehehe….tapi gak rugi kok nyatet, bagus soalnya, dan bisa dishare juga kan…..

Oke, ini kotbah minggu pertama mengenai bagaimana membangun hubungan komunikasi antara suami dan istri. Ada 8 points yang disebutkan, dan dia bilang coba deh praktekin tiap minggu 1 point, nanti pasti akan terasa bedanya. Nah, yang namanya rumah tangga kan pasti gak lepas dari masalah, ribut-ribut, berantem, dsb, bagaimana kita mengatasi rasa gondok-gondokan itu dan membangun hubungan komunikasi yang baik dan harmonis dengan pasangan.

Notes: Kalau ada kata-kata saya di bawah ini berarti maksud gua David, dan istrinya namanya Jessie. Yang gua suka, dari cara dia nyebut nama istrinya, ngeliat istrinya, keliatan banget nih orang sayang banget sama istrinya. Β Dia bilang orang tua harus kompak, apalagi yang punya 2 anak remaja kayak dia, ampun deh gitu kira2, hehehe…….

1. Warm each other

Karena tuntutan pekerjaan yang berat, saya seringkali pulang malam hari, bahkan terkadang sampai jam 10 malam. Kalau saya pulang, saya tuh udah capek banget dan mengharapkan saya bisa mandi, makan, nonton bola kesukaan saya, dan tidur tanpa diganggu hal-hal lain, pokoknya menikmati istirahat dan me time deh. Tapi gak boleh gitu ya, karena harus diingat bahwa istri saya tuh juga pulang dalam keadaan capek (istrinya guru), pulang kerja masih harus ngurusin rumah, masalah anak-anak, pekerjaan buat besok, dsb. Jadi kami selalu mengingat bahwa kalau kami ketemu di malam hari itu kami berdua dalam keadaan capek, bukan cuma saya yang capek! Saya harus mengerti masalah istri saya, saya gak bisa pulang terus mau seneng2 sendiri aja di rumah. Saya harus bisa ngeliat istri saya butuh apa, ada masalah apa sama anak-anak, apa yang bisa dibantu, dsbnya. Menurut dia ini masalah kebanyakn kaum lelaki, yang pulang maunya udah terima beres aja, hihihi……jadi ya kalau ketemu pasangan di malam hari harus sama-sama mengerti, namanya warm each other. Perhatikan kebutuhan pasangan juga, masalah rumah dan masalah anak-anak ada gak yang perlu diselesaikan, dan harus mau turun tangan meringankan beban yang lain.

2. Beware of your non verbal

Yang harus diperhatikan dalam komunikasi bukan hanya bahasa verbal saja atau pemilihan kata-kata, tapi juga bahasa tubuh kita. Gua kira tadinya tuh yang dia maksud adalah kayak kalo lagi ngomong tuh liat matanya, kasih senyum, duduk yang serius, dsb, eh ternyata bukan sama sekali! Dan ini adalah point yang paling tajem menurut gua, dalem banget nih sindirannya oom ini.

Dia kasih contoh gini, saya tuh kalau pulang kerja paling suka nonton TV, apalagi kalau ada pertandingan bola and MU yang main, wuah bisa lupa deh sama sekeliling saya. Nah, kadang-kadang tuh istri saya ngomong sesuatu, dan saya dengan cueknya tetep dengerin dia sambil nonton TV. Yang ada saya iya-iya doang, tapi gak ada yang masuk ke otak dan gak dikerjain. Nah lho! Kalau contoh lainnya di keluarga yang dia liat adalah penggunaan gadget, di saat pasangan/anak ngomong, suami/istri/bapak/ibu dengerin tapi sambil asyik sendiri mainin gadget. Paling cuma iya-iya aja atau nyaut seperlunya. Itu menunjukkan kita gak menghargai dan gak menganggap serius orang yang ngajak ngomong, nanti kita bakalan digituin juga sama pasangan/anak kita. Jadi saya belajar bahwa lagi seseru apapun pertandingan bola di TV, kalau istri saya lagi mau ngomong sesuatu yang penting, saya akan matikan dulu TVnya dan dengerin dia ngomong.

Iya bener yang ini, kadang kalau udah pegang gadget tuh dunia berasa milik berdua sama si gadget, yang lain numpang lewat doang. Kita bisa senyum, sedih, ketawa ngakak baca sesuatu di gadget atau seru sendiri mainan gadget, padahal di sebelah ada anak/pasangan butuh perhatian kita. Jadi usahakan ada family time yang bener2 lepas gadget dan hal2 yang mengganggu lainnya supaya kita bisa mendengarkan lebih baik.

3. Listening before speaking

Kalau pasangan ngomong sesuatu, jangan sok tau ataupun memotong pembicaraan di tengah-tengah. Dengarkan dulu sampai dia selesai ngomong, pikirkan dulu baik-baik, baru beri komentar dengan kepala dingin. Kata oom pendeta: enjoy each other, artinya nikmati kebersamaan dengan saling cerita dan mendengarkan tadi

4. Speak what is good, celebrate the good things to share

Dalam berkomunikasi, jangan cuma komunikasikan hal2 yang jelek2 aja, tapi juga yang positif dari pasangan harus sering diutarakan, apa yang kita suka dari dia, perubahan yang positif, dll hal-hal yang bagus

5. Prayer for peace before sleep if angry / disagreement arise

Kan ada nasehat yang bilang: ” Selesaikan masalah sebelum tidur di malam hari, supaya hati sama2 dingin dan adem.” Nah, menurut dia kadang2 kan itu gak bisa…..masa kalau sampai jam 3 pagi kami masih belum sepakat terus gak boleh tidur?

Terus ada juga yang bilang: “Ya udah, berdoa sama-sama, doakan masalahnya bareng-bareng. Nah, menurut dia: “Gimana bisa berdoa bareng-bareng, ngeliat mukanya aja udah sepet banget, boro2 mau ngomong deh…….hahaha…bener banget nih. Jadi solusinya adalah masing2 berdoa secara pribadi supaya diberikan pikiran yang jernih dan hati yang damai serta bisa mengampuni, terus tidur deh. Besok waktu kepala udah dingin baru diomongin lagi.

6. Give negative feedback in warm caring relationship

Mau kasih masukan dan kritikan, boleh aja. Tapi lihat suasananya, pilih tempat, waktu, dan kalimat yang tepat. Terus kita juga harus punya hubungan yang baik dengan pasangan supaya feedback kita bisa diterima. Tunjukkan bahwa feedback yang kita kasih itu bukan untuk kepentingan pribadi satu orang aja, tapi kepentingan pasangan juga. Menurut dia jangan kasih feedback di depan anak, terutama kalau anaknya udah remaja kayak dia, bisa langsung bermain peran ngebela salah satu buat kepentingan pribadi si anak (anak jaman sekarang sih emang gitu deh kali ya….)

7. Accept the advice

Kalau dikasih masukan, jangan langsung defensif, tapi pikir dulu dan terima dengan baik. Walaupun kita gak setuju tapi jangan langsung frontal, pikir dulu karena kadang2 karena ego kita yang menyebabkan kita gak bisa nerima pendapat pasangan walaupun betul.

8. Make sure every conversation ends well even if no result

Setiap ngomongin masalah, agak impossible juga kan kalau bisa selesai saat itu juga (beberapa case iya, tapi kayaknya sih sebagian besar gak ya….). Nah, walaupun tuh masalah belum selesai dan akan berlanjut, tapi setiap pembicaraan harus diakhiri dengan baik, bukan dengan jengkel-jengkelan atau marahan karena pasangan gak setuju sama pendapat kita. Lanjutkan lagi kalau sudah adem atau ada perkembangan baru yang mau dibicarakan

Nah, itu kira2 poin-poin dalam urusan komunikasi suami dan istri, semoga berguna ya…….

Nanti, di posting selanjutnya adalah kotbah kedua mengenai komunikasi orang tua dengan anak, gua posting di sini selain sharing juga untuk mengingatkan diri sendiri .

Author: cruiseoflife

Hi there. I'm from Indonesia but now live quite far away from my home country. I love cooking for my family. I learned how to cook for the first time from my mom and I believe that mom's cooking is always the best, and I do hope that my son will feel the same too even though he grows up so fast. I love Indonesian food as I grew up with it, and I promise to myself that my son, although he doesn't live in Indonesia right now, will always like and enjoy authentic Indonesian food. I make this blog so that my family will always remember our togetherness and happy time that we had, are having, and will have when we eat together and have good memories about a mother's love through her dishes. Hopefully these recipes will help other people to make healthy home cooked dishes for their families.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s